JEMBER, JAWA TIMUR, 5/4 (JMDN) – Momen Lebaran Ketupat membawa berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kuliner tradisional. Salah satunya dirasakan Enis, perajin lontong kayu bakar asal Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur.
Menjelang perayaan ini, Enis mengaku kewalahan memenuhi pesanan yang membludak dari pelanggan.
Jika pada hari biasa Enis hanya mengolah puluhan kilogram beras untuk produksi lontong, kini ia harus mengolah hingga mencapai kwintalan. Dalam sehari, permintaan bisa menembus 5.000 lontong.
“Biasanya saya hanya produksi ratusan, tapi sekarang bisa sampai ribuan. Bahkan saya sampai menolak beberapa pesanan karena keterbatasan tenaga dan waktu,” ungkap Enis, saat ditemui, Sabtu (5/4/2025).
Permintaan yang tinggi ini tak lepas dari tradisi masyarakat yang menjadikan lontong sebagai sajian khas untuk dibagikan ke tetangga dan saudara saat Lebaran Ketupat. Enis yang telah menjalani usaha ini selama 25 tahun pun mengaku tetap mempertahankan metode tradisional dalam proses produksinya.
Lontong buatannya dimasak menggunakan kayu bakar khusus selama sembilan jam, sehingga menghasilkan aroma wangi yang khas dan cita rasa yang pulen. Menariknya, lontong buatan Enis juga tahan lama meski tidak menggunakan bahan pengawet.
“Lontongnya awet, pulen, dan aromanya beda. Saya langganan tiap tahun, dan tahun ini beli 30 buah untuk selamatan Lebaran Ketupat,” kata Yuli, salah satu pelanggan setia.
Enis memasarkan lontongnya dengan harga bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.500 per buah, tergantung ukuran dan permintaan konsumen. Untuk mengimbangi lonjakan permintaan, ia melibatkan anggota keluarga dan beberapa tetangga sebagai tenaga tambahan.
Selain melayani pelanggan rumahan, Enis juga menyuplai lontong ke berbagai restoran serta pedagang bakso dan gado-gado di wilayah Jember. (JMDN/bbg)